Kamis, 05 April 2018

KAJIAN KRITIS HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DALAM ASPEK KEBAHASAAN MORFOLOGI


KAJIAN KRITIS HUBUNGAN FILSAFAT ILMU DALAM
ASPEK KEBAHASAAN MORFOLOGI
Tugas Ini Disusun Guna  Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu
Dosen Pembimbing: Sri Waljinah P

Description: D:\Ums.jpg

Disusun Oleh :
ARIF KUSDIWANTO
  A310100002/ 3F

PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013

A.  Pendahuluan
Jika kita perhatikan dengan baik, dalam kehidupan sehari-hari banyak masyarakat disekitar  kita yang memakai Bahasa Indonesia tetapi tuturan atau ucapan daerahnya terbawa kedalam tuturan Bahasa Indonesia. Banyak sekali masyarakat Indonesia yang menggunakan kata-kata yang tidak baik dan benar ketika melakukan komunikasi.Mereka sering menggabungkan Bahasa Daerah dengan Bahasa Indonesia yang justru terkesan aneh jika didengar.  Selain itu, banyak juga orang yang berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia tetapi menggunakan lafal atau intonasi jawa, batak, bugis, sunda dan lain sebagainya. Hal ini dimungkinkan karena sebagian besar bangsa Indonesia menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Sedangkan bahasa pertamanya adalah bahasa daerah masing-masing. Oleh karena itu dalam pengucapan atau pemilihan kata ketika berbicara menggunakan Bahasa Indonesiapun tidak tepat. Sehingga menimbulkan banyak keanehan dan kejanggalan makna ketika kata itu diucapkan. Selain itu, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia sejak sekolah dasar, istilah yang dikenal dan lazim digunakan oleh guru adalah “huruf” walaupun yang dimaksud adalah fonem. Mengingat keduanya merupakan istilah yang berbeda, untuk efektifnya pembelajaran tentu perlu diadakan penyesuaian dalam segi penerapannya. Oleh karena itu, untuk mencapai suatu ukuran lafal atau fonem baku dalam Bahasa Indonesia, sudah seharusnya kata-kata atau intonasi khas dari daerah tersebut perlu dikurangi jika mungkin bisa dihilangkan saja. sebagai seorang calon pendidik, tentunya kita harus bisa menghilangkan pengertian-pengertian yang salah tersebut. Seorang calon pendidik harus bisa memahami struktur morfologi dan fonologi Bahasa Indonesia. karena keduanya merupakan hal yang saling berkaitan. Jika sebuah pemilihan kata dan pengucapan kata tersebut juga salah, maka hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap makna yang terbentuk.
Filsafat ilmu berasal dari kata Yunani, philosophia, yang berarti cinta akan kebijaksanaan. Filsafat sebagai salah satu pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka (Poedjawiyatna, dalam Suharti,2012:2). Filsafat ilmu sebagai cabang ilmu pengetahuan adalah bidang yang memiliki obyek kajian universal. Aspek-aspek kehidupan manusia secara keseluruhan tercakup dalam filsafat ilmu. Bidang kajian yang universal itu memungkinkan filsafat untuk bekerja sama dengan cabang ilmu pengetahuan lain. Cabang ilmu pengetahuan lain yang menjadi perhatian di antaranya adalah bidang bahasa. Para ahli filsafat memandang aspek-aspek kebahasaan sangat diperlukan untuk menyampaikan dan menjelaskan hal-hal yang menjadi permasalahan dan kajian filsafat sebagai ilmu pengetahuan.

B. Kajian Mengenai Morfologi

             Bahasa adalah alat komunikasi yang penting dalam kehidupan manusia, karena dengan bahasa dapat disampaikan pesan, maksud, dan tujuan penutur kepada lawan bicara. Ilmu lingusistik adalah ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajiannya. Morfologi merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari mengenai morfem dan kombinasinya. Morfologi merupakan satu sistem dari suatu bahasa dalam arti luas sehingga struktuk kata yang senantiasa membentuk kalimat-kalimat tentu mengalami perubahan sesuai dengan jenis kata atau makna kata yang dikehendaki oleh penutur atau penulisnya. Dengan demikian, morfologi memiliki keleluasan dalam proses pembentukan morfem, kata dan kombinasi-kombinasinya baik pada kategori morfem bebas maupun terikat.  Morfem merupakan satuan terkecil dalam kata yang tidak dapat diuraikan lagi dalam kalimat. Sebagai satuan terkecil morfem ini merupakan satuan gramatikal yang memiliki makna. Morfem dibedakan atas tiga bagian: 1). Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri dalam hal makna. 2). Morfem setengah bebas adalah morfem yang memiliki makna, tetapi tidak dapat berdiri sendiri jika tidak bergabung dengan morfem lain. 3). Morfem terikat adalah morfem yang selalu melekat pada morfem lain atau dapat memiliki makna sebelum bergabung dengan morfem lain. Selain morfologi, fonologi juga merupakan cabang ilmu linguistik.
C. Kelemahan dan Kelebihan
Morfologi merupakan cabang ilmu linguistik. Kelebihan aspek aksiologi dari mempelajari morfologi adalah dengan mempelajari morfologi kita dapat menentukan sebuah bentuk itu merupakan morfem atau bukan. Selain itu, kita juga dapat  mengidentifikasi bagaimana proses pembentukan morfem-morfem tersebut tersebut menjadi sebuah  kata sehingga kata tersebut dapat digunakan dan diaplikasiikan secara baik dan benar. Jadi, dengan mempelajari morfologi memang banyak manfaat dan kelebihan yang bisa kita dapat. Meskipun  terdapat banyak kelebihan tak berarti bahwa morfologi tidak mempunyai kelemahan. Kelemahan morfologi yaitu sulitnya untuk membedakan apakah itu morfem ataukah kata. Karena kata dan morfem memiliki sedikit kemiripan jika tidak diidentifikasi secara teliti. 
D. PENUTUP
Berdasarkan kajian di atas terdapat kaitan antara filsafat dengan bahasa. Bahasa dapat dikatakan sebagai sumber perhatian dari filsafat. Morfologi merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari mengenai bentuk kata. Satuan terkecil dari sebuah kata yang tidak dapat dipisahkan lagi disebut dengan morfem. Jenis morfem ada tiga yaitu a). morfem bebas, b). morfem setengah bebas dan c). morfem terikat. Hal ini menegaskan bahwa peran filsafat ilmu dalam perkembangan bahasa menunjukkan hubungan yang saling berkaitan.

















DAFTAR PUSTAKA
Suharti, Ermi. 2012. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Prajnya Ilmu
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta
Nasucha, Yakub dkk. 2010. Morfologi.  Surakarta : Yuma Pustaka

Jumat, 07 Juni 2013

resensi buku AKU



Resensi Buku Non-fiksi Biografi Chairil Anwar “AKU”
a.       Judul  Resensi                         : Aku Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair 
                                                  Chairil Anwar
b.      Identitas buku
1.      Judul Buku                        : AKU
2.      Nama Pengarang               : Sjuman Djaya
3.      Tempat Penerbitan Buku  : Jakarta
4.      Tahun Penerbitan              : 2003
5.      Tebal Buku                        : xii + 155 hlm
6.      Jumlah halaman                 : 155
7.      Harga Buku                       : -
c.       Isi  Buku
Siapa yang tak kenal dia. Binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang. Sempat terpinggirkan oleh zaman Jepang. Perang yang terus berlalu lalang tidak membuatnya gentar ataupun takut. Sosok penyair bohemian yang rindu akan kebebasan, sempat merdeka meski belenggu penjajahan mengangkang. Tak peduli peluru menerjang kulitku, aku tetap meradang menerjang, luka dan bisa kubawa berlari, hingga hilang pedih peri dan aku akan lebih tidak peduli, aku mau hidup seribu tahun lagi. Sederet larik di atas, dengan kata sederhana namun memberikan energi, kekuatan bagi mereka yang mendengarnya. Dia sang penyair liar, Chairil Anwar. Kehidupannya yang amburadul, anti kemapanan tak membuatnya gerah menghadapi rumitnya pada saat ia mengangkangi bumi ini. Kehidupan setiap orang memiliki warna-warni yang saling berbeda dan hal itulah yang membuat hidup ini terasa manis. Seperti kehidupan Chairil yang juga sosok manusia biasa yang ingin berteriak pada dunia, bahwa, Aku ingin bebas dari segala, Merdeka. Kendati bebas, ia lantas tak hanya berpangku tangan saja melihat situasi kondisi lingkungan dimana ia tinggal. Setiap untaian kata-kata yang keluar dari mulutnya dan goresan tinta di secarik kertas buram, mampu menelurkan sajak-sajak yang akan membuat dirinya dikenang di masa mendatang, menjadi maestro penyair terkemuka dalam kasusastraan indonesia angkatan 45.Alur cerita kehidupannya yang menceritakan dia sosok penyair fenomenal tak di dapatnya secara instant begitu saja. Meminjam kata-kata iwan fals, bukan tujuan yang dicari tapi prosesnya. Itulah yang dilakukan Chairil dalam hidupnya, meski dia mati muda. Tak habis-habis orang membicarakan karya-karyanya dan kehidupannya. Dia mampu mengubah ketakutan pada Jepang kala itu menjadi senjata untuk kreatif dalam kata-kata sajaknya. Proses hidup yang terus dijalani mampu memberikan cerminan realitas dirinya pada saat itu. Hidup yang tak monoton. berliku-liku tak mudah ditebak dan penasaran. Proses hidupnya itulah yang membuat si penulis,
Sjuman Djaya menulis skenario tentang kisah perjalanan dan karya-karya penyair Chairil Anwar. Judul sajaknya “AKU” telah membuat pemerintahan Jepang, kala itu sempat ketakutan karena isi lirik-liriknya yang menimbulkan semangat pemberontakan, keberanian. Hingga Jepang mengubah judulnya “Semangat” untuk mengaburkan sajak itu. Skenario yang belum sempat dibuat filmnya karena keterbatasan ruang dan dokumentasi saat itu tak membuat kesegaran isinya hancur remuk hilang bentuk. Malah sebaliknya sederetan kata-kata dalam skenario dibawakan dengan apa adanya, menimbulkan kebaruan. Referensi yang dicari dari mana-mana, teman sesama penyair, keluarganya dan orang-orang yang merasa kenal dengan dirinya membuat naskah ini kelihatan hidup dan berbobot. Teringat pesan dari anonim: bahwa terpenting bukan bagaimana dia mati, namun bagaimana ketika mereka saat hidup.
d.      Kelebihan dan Kelemahan
·         Kelebihan Buku          :
Buku ini, lebih cocok skenario ini enak dibaca karena pilihan diksi san kata-katanya sederhana, begitu juga sajak-sajak Chairil, sederhana tapi tak menghilangkan makna. Lewat karya Chairil dan Sjuman Djaya bisa terdengar gaungnya hingga sekarang. Meski keduanya telah tiada namun karya-karya mereka mampu kita nikmati dan rasakan. Buku ini memuat skenario perjalanan penyair Chairil Anwar dari ketika dia dalam masa-masa kecilnya bersama nenek dan ibunya, ketika beranjak menjadi pemuda liar, dan sempat angkat senjata berjuang melawan penjajah hingga pembuktian kedewasaan melalui kisah cinta romantis bersama wanita-wanita yang pernah hidup dengannya. Begitu juga ketika dia sesaat TBC merenggut nyawanya.
Sjuman Djaya mengambil sosok Chairil menjadi pelaku utama dalam sandiwara ini. Dan rasa senang, sedih, angkuh dan, marah diungkapkannya secara apik.
·         Kelemahan Buku        : 
Buku ini pun tidak luput dari kata kekurangan, yakni buku ini terlalu banyak memuat sisi positif sang penyair. Walaupun  telah disisipkan berbagai kekurangan sang penyair namun tetap saja lebih menonjolkan segala sisi baiknya. Buku ini dapat dikatakan sedikit subjektif sang penyair Chairil Anwar. Karena buku ini merupakan salah satu buku yang menyajikan sastra di dalam penyampaiannya dalam bentuk bahasa prosa. Bagi kebanyakan orang awam buku ini mungkin tidak mudah untuk memahami isi buku ini. Untuk memahami isi buku ini haruslah beberapa kali dahulu membacanya. Ini yang membuat buku ini kurang diminati oleh kaum awam. Penikmat buku sejenis ini kebanyakan hanyalah mereka yang bergelut di bidang sastra saja. Mereka yang profesinya di bidang bahasa khususnya sastra seperti essays, dosen mata kuliah sastra, penulis, seniman teater, dll. Untuk kebanyakan orang awam mungkin lebih memilih buku yang bagi mereka mudah untuk dicerna.
e.       Perbandingan dengan Buku Nonfiksi Lain
Buku ini menceritakan perjalanan hidup yang begitu ruwet tetapi jelas karena alur cerita yang ditampilkan secara ringkas namun runtut. Mungkin buku lain yang sejenis yang memuat perjalanan hidup sang pujangga. Hal ini bisa dikarenakan keduanya yaitu pengarang buku ini dan yang ditulis biografinya memiliki ikatan emosional yang cukup dekat. Dikarenakan secara Sjuman Djaya adalah penggemar dan sangat mengidolakan sosok sang penyair Chairil Anwar. Oleh karenanya secara tidak langsung Sjuman Djaya ingin menampilkan karyanya secara total dalam rangka perwujudan apresiasinya terhadap Sang Penyair legenda ini. Ini yang membuat buku ini lebih memiliki “taste” yang lebih dibandingkan buku biografi yang lain.  
f.       Arah dan Saran Pemilihan Buku
Setelah membaca dan mengerti isi buku ini secara keseluruhan alangkah baiknya buku ini segera didapatkan dan dibaca. Karena isi dari buku ini adalah suatu pemberontakan pribadi yang ingin menentang segala kemapanan dan keberaturan. Bagi sastrawan wajiblah untuk segera membaca ini agar dapat digunakan sebagai referansi diri untuk berkarya tanpa batas. Karena sosok Chairil Anwar sangatlah menginspirasi gejolak seni para seniman maupun sastrawan di Indonesia.


g.      Unsur Bahasa yang Digunakan
Unsur bahasa yang digunakan yaitu dengan bahasa prosa dan puisi yang sangat dalam dan setiap kata-kata yang digunakan sangatlah mempunyai makna yang leksikal. Setiap kata yang tertulis dalam buku ini mengandung unsur sastra yang penuh makna kehidupan. Bahasa yang memerlukan pengkajian ulang untuk bisa mengerti akan indahnya proses kehidupan.
h.      Tujuan Pengarang dan Tujuan Resensator
Tujuan dari pengarang adalah mengangkat kisah hidup seorang penyair yang tidak dianggap di masa hidupnya, tetapi setelah penyair itu wafat banyak orang yang memuji hasil karyanya, maka dari itu pengarang mengangkat hal ini agar semua orang tahu bagaimana kisah hidup sang penyair tersebut. Sehingga sangatlah bermanfaat sebagai referensi kita semua untuk lebih mengerti dan memahami proses kehidupan. Di saat kita mulai menyerah menghadapi segala ujian hidup yang kompleks ini kita bisa belajar dari perjalanan sang penyair. Kita dapat mengekspresikan dan menampilkan segala karya yang positif bagi umat.
i.        Harapan dan Saran Resensator
Agar setiap orang dapat membaca buku ini dan memahami setiap kata yang terkandung di dalam buku ini, dan agar buku ini dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit semangat untuk menjalani hidup ini. Dengan kata lain bisa digunakan sebagai sumber inspirasi kita agar dapat menjadi generasi muda bangsa yang super semangat. Tanpa mengenal batas di dalam menciptakan karya yang berguna.
j.        Kesimpulan
Buku ini memuat segala proses perjalanan hidup penyair Chairil Anwar yang sangat mementingkan sebuah proses dan proses kehidupan. Buku yang sangat inspiratif dan menggugah gejolak jiwa para pemuda di eranya untuk bergolak melawan segala keberaturan yang menyesatkan jiwa. Membangkitkan segala semangat untuk berperang melawan ketidakadilan yang melanda bangsa tercinta kita ini.
Biografi ini wajib dikoleksi oleh sebagian orang yang sudah terlanjur suka dan cinta tentang dunia sastra. Buku ini memuat skenario perjalanan penyair Chairil Anwar dari ketika dia dalam masa-masa kecilnya bersama nenek dan ibunya, ketika beranjak menjadi pemuda liar, dan sempat angkat senjata berjuang melawan penjajah hingga pembuktian kedewasaan melalui kisah cinta romantis bersama wanita-wanita yang pernah hidup dengannya. Semoga semangatmu Chairil Anwar tetap melekat abadi di dalam lubuk hati sanubari kami.
Bagi kami yang sedang menapaki proses kehidupan menuju masa depan yang lebih dari indah. Sebagai generasi penerus bangsa yang ingin selalu bersemangat mengharumkan bangsa ini. Terutama dalam hal dunia kesusasteraan negeri Indonesia ini agar tidak mudah tergeser oleh perkembangan globalisasi.

Sastra Banding


AFINITAS LIRIK LAGU BENGAWAN SOLO VERSI GESANG DENGAN LIRIK LAGU BENGAWAN SOLO VERSI TOSHI MATSUDA DARI JEPANG

Tugas Ini Disusun Sebagai Pengganti Ujian Akhir Mata Kuliah Sastra Banding
Pengampu :  Miftahul Huda , S.Pd, M.Pd.
 Oleh :
1.      Arif Kusdiwanto   A310100002
2.      Fandy Andar S.    A310100030
PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
ABSTRAK
Lirik lagu dapat menggambarkan sebuah kenyataan maupun sebuah hal hal yang fiktif saja. Lirik lagu juga menjadi sesuatu yang menarik ketika syair dan alunan musik menyatu dengan lirik lagu tersebut. Lirik lagu Bengawan Solo menceritakan tentang sungai terpanjang di pulau jawa yaitu sungai bengawan solo. Lagu Bengawan solo sangat tenar di tahun 1940- an tahun dimana negara Indonesia saat itu belum merdeka. Pada tahun tersebut kondisi negara Indonesia masih dalam kondisi terjajah, pada zaman itu Indonesia dibawah jajahan Jepang. Lagu bengawan Solo diciptakan oleh sang maestro keroncong Indonesia yaitu Gesang. Gesang menciptakan lagu tersebut tahun 1940, Gesang adalah putra Solo asli, beliau menciptakan lagu tersebut terinspirasi oleh sungai Bemgawan Solo. Lagu Bengawan Solo sangat fenomenal di masa itu dan lagu tersebut dapat dicerna dengan cepat oleh semua kalangan, termasuk orang – orang Jepang yang saat itu masih menduduki Indonesia. ketenaran lagu tersebut dipengaruhi oleh lirik lagunya yang mudah dinikmati dan irama musik keroncong yang mengalun indah. Ketenaran lagu tersebut tidak hanya di dalam negeri saja, namun di Jepang lagu Bengawan Solo juga dikenal. Bengawan Solo terkenal di Jepang mula – mula lagu tersebut dibawa oleh pasukan Jepang pasca Perang Dunia II. Lagu Bengawan Solo terkenal setelah dinyanyikan oleh beberapa penyanyi Jepang diantaranya adalah Toshi Matsuda. Toshi Matsuda adalah musisi Jepang pertama yang menyanyikan lagu ini. Lagu Bengawan Solo versi Gesang dan Toshi Matsuda memiliki kesamaan hal itu terjadi karena lagu Bengawan Solo dibawa oleh tentara Jepang dan dinyanyikan terus menerus oleh tentara Jepang dan dilihat dari sejarah, lagu tersebut tenar di Indonesia saat masa penjajahan Jepang.
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Lirik lagu merupakan sebuah karya sastra, dimana lirik lagu juga bersifat mengajar dan menghibur. Ada sisi hiburan didalamnya terkadang juga terdapat banyak hal yang dapat kita ambil dari sebuah lirik lagu. Lirik lagu Bengawan Solo menggambarkan tentang sungai Bengawan Solo yang notabenya adalah sungai terpanjang dipulau Jawa. Lgu Bengawan Solo diciptakan oleh Almarhum Gesang tahun 1940 lagu tersebut sangat populer di kisaran tahun 1940 an dan lagu tersebut masih sangat dikenal sampai sekarang
Sekitar tahun 1943 Jepang mulai menduduki Indonesia setelah Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia. Berawal dari hal itu jepang mulai berkuasa di Indonesia, tentara – tentara Jepang mulai menguasai pengamanan hingga pelosok Negeri, salah satunya di kota Solo. Tentara Jepang yang bertugas untuk mengamankan kota Solo sering mendengar lagu keroncong dan salah satunya lagu milik Gesang yaitu Bengawan Solo. Lagu Bengawan Solo pun dinyanyikan oleh tentara – tentara Jepang termasuk oleh panglima – panglima besar mereka. Ternyata lagu tersebut menjadi lagu yang digemari oleh tentara – tentara Jepang kala itu.
Tahun 1945 sekutu membombardir kota Nagasaki dan Hirosima, dua kota yang cukup berpengaruh di Jepang. Hal itu membuat Jepang menyerah pada sekutu, dan pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno dan Hata memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Tentara dan panglima - panglima Jepang kembali ke Negara asal mereka dengan membawa memori tentang lagu yang sangat mereka gemari di Indonesia yaitu Bengawan Solo. Di Jepang mereka terus menyanyikan lagu tersebut dan banyak warga – warga setempat yang mulai gemar menyanyikannya. Puncaknya pada tahun 1947 lagu Bengawan Solo menjadi sangat populer di Jepang karena seorang musisi dari Jepang yaitu Toshi Matsuda melakukan proses rekaman pada lagu ini dan hasilnya sangat sukses.
Lirik lagu Bengawan Solo versi Toshi Matsuda dan lagu versi aslinya yang diciptakan oleh Gesang memiliki kesamaan dan hubungan kekerabatan yang didasarkan pada kemiripan struktur lirik lagu tersebut. Proposal laporan penelitian ini akan membahas tentang Afinitas lirik lagu Bengawan Solo versi Gesang dengan Lirik lagu Bengawan Solo versi Thosi Matsuda dari Jepang.
B.     Rumusan Masalah
1.         Mengapa lirik lagu termasuk dalam kajian sastra banding?
2.         Bagaimana konsep afinitas dalam sastra banding?
3.         Bagaimana afinitas lirik lagu Bengawan Solo versi Gesang dan lirik lagu Bengawan Solo versi Toshi Matsuda dari Jepang?
C.     Tujuan
1.         Menjelaskan mengapa lirik lagu termasuk dalam kajian sastra banding.
2.         Mendiskripsikan konsep afinitas dalam sastra banding.
3.         Mendiskripsikan afinitas lirik lagu bengawan solo versi Gesang dengan lirik lagu Bengawan Solo versi Toshi Matsuda dari Jepang.
D.    Manfaat
Dari penelitian diatas dapat diperoleh manfaat yaitu dapat menambah wawasan serta dapat  memahami afinitas lirik lagu Bengawan Solo versi Gesang dengan lirik lagu Bengawan Solo versi Toshi Matsuda dari Jepang.
KAJIAN TEORI
A.      Landasan Teori
1.         Sastra Banding
Sastra bandingan menurut sejarahnya dibedakan menjadi dua aliran, yaitu:
a.         Aliran Perancis = membandingkan dua karya sastra dari dua Negara yang berbeda
b.        Aliran Amerika = membandingkan dua karya sastra dari dua Negara yang berbeda
Membandingkan dua karya sastra dengan bidang ilmu atau seni yang lain
Syarat sastra bandingan menurut Maman S. Mahayana yaitu:
a.         Perbedaan bahasa
b.        Perbedaan wilayah
c.         Perbedaan politik
Untuk meneliti pertalian sastra antar bangsa Fungsi Sastra bandingan
Sastra bandingan menurut Rene Wellek dan Austin Warren:
a.         Istilah sastra bandingan kali pertama dipakai untuk studi sastra lisan, cerita rakyat, dan migrasinya, bagaimana dan kapan cerita rakyat masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik.
b.        Istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Sastra bandingan di sini disamakan dengan studi sastra menyeluruh.
c.         Sastra Dunia merupakan sastra nasional yang diberi peluang meletakkan dirinya dalam lingkungan sastra di dunia dengan kriteria tertentu.
Perbedaan antara Sastra Nasional, Sastra Bandingan, dan Sastra Umum:
a.         Sastra nasional hadir dalam satu lingkungan atau terbatas pada satu Negara
b.        Sastra bandingan hadir diluar lingkungan untuk melibatkan dua sastra yang berlainan
c.         Sastra umum hadir di atas lingkungan sejumlah Negara yang lebih luas yang dikelompokkan kedalam unit-unit.
Objek kajian Sastra Bandingan menurut Suripan Sadi Hutomo:
a.         Membandingkan dua karya sastra dari dua Negara yang bahasanya benar-benar berbeda
b.        Membandingkan dari dua Negara yang berbeda dalam bahasa yang sama
c.         Membandingkan karya awal seorang pengarang di Negara asalnya dengan karya setelah berpindah kewarganegaraannya
d.        Membandingkan karya seorang pengarang yang telah menjadi warga suatu Negara tertentu dengan karya seorang pengarang dari Negara lain
e.         Membandingkan karya seorang pengarang Indonesia dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia
f.         Membandingkan dua karya sastra dari dua orang pengarang berwarga Negara Indonesia yang menulis dalam bahasa asing yang berbeda
g.        Membandingkan karya sastra seorang pengarang yang berwarga Negara asing di suatu Negara dengan karya pengarang dari Negara yang ditinggalinya (kedua karya sastra ini ditulis dalam bahasa yang sama)
Menurut Sapardi Djoko Damono:
a.         Sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri
b.        Uraian yang dilaksanakan dalam sastra bandingan berlandaskan asas banding-membandingkan
Menurut Remak:
a.         Sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah Negara dan kajian hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan (seni) yang lain.
Menurut Nada:
a.         Sastra bandingan adalah suatu studi atau kajian sastra suatu bangsa yang mempunyai kaitan kesejarahan dengan sastra bangsa lain, bagaimana terjalin proses saling memengaruhi antara satu dengan lainnya, apa yang telah diambil suatu sastra, dan apa pula yang telah di sumbangkannya
b.        Perbedaan bahasa merupakan salah satu syarat utama bagi sastra bandingan
c.         Dia membuat studi mengenai proses perpindahan sastra dari suatu daerah ke daerah lain: tipe (genre), diksi, dan gaya.
Menurut Sahlan Moh. Saman, unsure-unsur yang dibandingkan dalam sastra bandingan yaitu:
a.         Kritik dan teori kesusastraan
b.        Gerakan kesusastraan
c.         Kajian tema
d.        Kajian bentuk (genre)
e.         Hubungan kesusastraan dengan: sejarah, sejarah falsafah, kesan perbuahan, sumber dan pengaruh, masyarakat, disiplin sains, dan disiplin seni yang lain
Menurut Clements (dalam bukunya Sapardi Djoko Damono), pendekatan dalam sastra bandingan:
a.         Tema/mitos
b.        Genre dan bentuk
c.         Gerakan atau zaman
d.        Hubungan sastra sebagai bahan bagi berkembangnya teori yang terus-menerus bergulir
Tujuan sastra bandingan:
a.         Menghapus pandangan sempit sastra nasional, dan untuk menghilangkan anggapan baha sastra nasional yang satu lebih baik dari sastra nasional yang lain.
b.        Untuk melihat perkembangan buah pikiran dalam kehidupan manusia, bagaimana buah pikiran tersebut muncul dan meluas ke berbagai tempat dan bangsa di dunia ini.
Sifat kajian:
a.         Kajian bersifat komparatif
Menitikberatkan pada penelaahan teks karya sastra yang dibandingkan, misalnya: studi pengaruh, afinitas, dan intertekstualitas.
b.        Kajian bersifat historis
Memusatkan perhatian pada nilai-nilai historis yang melatarbelakangi antara karya sastra dengan karya lainnya.
c.         Kajian bersifat teoritis
Menggambarkan tentang konsep, criteria, batasan, atau aturan-aturan berbagai bidang kesusastraan seperti aliran, genre, bentuk, teori pendekatan, kritik sastra, dsb.
d.        Kajian bersifat antar disiplin
2.         Afinitas
Afinitas diberi makna hubungan kekerabatan yang terwujud karena adanya perkawinan dalam ilmu bahasa diartikan ‘unsur-unsur sama pada dua atau beberapa bahasa karena bahasa itu diturunkan dari suatu bahasa leluhur yang sama’ dan dalam ilmu biologi mengandung makna hubungan antara jenis-jenis atau kelompok-kelompok yang lebih tinggi didasarkan kemiripan dalam seluruh rencana strukturnya dan kesamaan unsurnya. Dalam sastra banding adalah keterkaitan unsur-unsur instrinsik karya sastra.
3.         Lirik Lagu
. Lirik lagu merupakan ekspresi seseorang dari dalam batinnya tentang sesuatu hal baik yang sudah dilihat, didengar maupun dialami. Lirik lagu memiliki kekhususan dan ciri tersendiri dibandingkan dengan sajak karena penuangan ide lewat lirik lagu diperkuat dengan melodi dan jenis irama yang disesuaikan dengan lirik lagu (Fauzi, 2006:3).
4.         Bengawan solo
Bengawan Solo adalah sebuah nama sungai terpanjang di pulau Jawa. Sungai Bengawan Solo memiliki panjang  hingga 600 km dan mempunyai lebih dari 2200 anak sungai. Sungai yang mengalir melewati hampir 20 kota dan kabupaten sepanjang Jawa Tengah hingga beberapa wilayah di Jawa Timur. Sungai Bengawan Solo bermata air dari daerah Wonogiri menuju muaranya di Laut Jawa sekitar kota Gresik. Sungai Bengawan Solo ini mempunyai sejarah peradaban sepanjang alirannya, karena sungai ini dahulunya digunakan sebagai sarana transportasi dan perdagangan zaman dahulu.   

B.       Penelitian yang relevan
1.         Penelitian Subekti yang berjudul “TELAAH BANDINGAN TERHADAP LIRIK LAGU LUBANG DI HATI DAN JALAN YANG HILANG DALAM ALBUM LETHOLOGICA KARYA LETTO
2.         Penelitian karya Didik Kurniawan Mahasiswa UNDIP yang berjudul “KRITIK SOSIAL TERHADAP PERANG DALAM LIRIK LAGU B.Y.O.B DAN WAR KARYA SYSTEM OF A DOWN”
METODE
Langkah-langkah yang dilakukan, metode perbandingan adalah yang utama, perbandingan sebenarnya merupakan salah satu metode yang juga selalu digunakan dalam penelitian seperti halnya memberikan dan menguraikan , tetapi dalam sastra bandingan metode itu merupakan langkah utama. Dengan demikian uraian yang dilaksanakan dalam sastra bandingan berdasarkan azas banding – membandingkan (Damono : 2005 : 2).
Sedangkan menurut Remak ( 1990 : 1), sastra bandingan adalah kajian sastra diluar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan diantara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni (misalnya, seni lukis , seni ukir, seni bina dan seni musik ), filsafat , sejarah dan Sains Sosial (misalnya politik, ekonomi, sosiologi ), sains, agama, dan lain-lain. Ringkasannya, sastra bandingan membandingkan sastra dengan bidang lain sebagai keseluruhan ungkapan kehidupan. Cara kerja bandingan adalah melihat unsur persamaan dan perbedaan aspek tertentu dari dua karya atau lebih. Dan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan kedua karya sastra tersebut dengan menggunakan pendekatan intertekstual.                                                        
PEMBAHASAN
Lirik adalah karya sastra (puisi) yang berisi curahan perasaan pribadi, susunan kata sebuah nyanyian (KBBI, 2003:678). Lagu adalah berbagai irama yang meliputi suara instrumen dan bernyanyi dan sebagainya, nyanyian, tingkah laku, cara, lagak (KBBI, 2003:401). Lagu adalah ragam suara yang berirama, nyanyian, ragam, nyanyi, dan tingkah laku (KBBI, 2003:624). Lagu adalah suatu kesatuan musik yang terdiri atas susunan pelbagai nada yang berurutan (Ensiklopedia Indonesia dalam Fillaili, 2007:10).
Lirik lagu terbentuk dari bahasa yang dihasilkan dari komunikasi antara pencipta lagu dengan masyarakat penikmat lagu sebagai wacana tulis karena disampaikan dengan media tulis pada sampul albumnya dapat juga sebagai wacana lisan melalui kaset.
Lirik lagu termasuk dalam genre sastra karena lirik adalah karya sastra (puisi) yang berisi curahan perasaan pribadi, susunan kata sebuah nyanyian (KBBI, 2003:678). Jadi lirik sama dengan puisi tetapi disajikan dengan nyanyian yang termasuk dalam genre sastra imajinatif. Oleh karena itu lirik lagu merupakan karya sastra, dan dapat dijadikan sebuah bahan untuk dikaji dalam sastra bandingan.(http://gado2indonesia.blogspot.com/2009/04/gaya-bahasa-dalam-lirik-lagu-lagu-ungu.html)
Konsep Afinitas dalam sastra banding
Kata afinitas berasal dari bahasa latin ad yang berarti dekat  dan  finish yang berarti batas. Jika dalam ilmu antropologi afinitas berarti hubungan kekerabatan maka dalam sastra banding pun tidak jauh berbeda. Jadi afinitas dalam sastra bandingan adalah studi terhadap hubungan kekerabatan teks sastra. Setiap teks memiliki pertalian erat dengan teks yang sebelumnya. Dengan demikian peneliti sastra banding harus mampu menjelaskan hubungan tersebut. (Endraswara,2008:141-142 dalam http://umanrejoss.blogspot.com/2011/03/sastra-bandingan.html)
Lirik lagu Bengawan Solo yang dinyanyikan oleh Toshi Matsuda dari Jepang adalah ciptaan dari sang maestro keroncong dari Indonesia yaitu Gesang. Lirik lagu Bengawan Solo dibuat dalam versi Jepang dan tanpa disadari bahwa lagu bengawan solo adalah lagu ciptaan gesang dari Indonesia.
Afinitas lirik lagu bengawan solo versi gesang dengan lirik lagu bengawan solo versi Toshi Matsuda dari Jepang
Lirik lagu Bengawan Solo versi Gesang 
Lirik lagu
Bengawan Solo
Riwayatmu kini
Sedari dulu jadi
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Di musim hujan, air
meluap sampai jauh

Reff:
Mata airrmu dari Solo
Terkurung Gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatnya dulu
Kaum pedagang selalu
Naik itu perahu
Lirik lagu Bengawan Solo Versi Toshi Matsuda dari Jepang
変わらぬは ソロの流れ                         kawaranu ha Solo no nagare
いわれを秘めて 今日も流れる              iware wo himete  kyou mo nagareru
乾燥期(かれどき)は 水は乾けど      karedoki ha    mizu kawakedo
雨期は豊かに あふれ流れる                  uki ha yutaka ni  afure nagareru
緑の深山(みやま)に                              midori no miyama ni     
囲まれた水上(みなかみ)                     kakomareta minakami
流れて終(つ)いには 海にそそぐ      nagarete tui ni ha  umi ni sosogu
過ぎし日を 語るように                          sugisi hi wo  kataru you ni
商いの舟 今日も漕ぎ行く                      akinai no fune    kyou mo kogi yuku

Sumber:
http://bunbun.boo.jp/okera/haho/bengawan_solo.htm
Arti dalam bahasa Indonesianya sebagai berikut :
kawaranu ha Solo no nagare
iware wo himete  kyou mo nagareru
karedoki ha    mizu kawakedo
uki ha yutaka ni  afure       nagareru
midori no miyama ni  kakomareta minakami
nagarete tui ni ha  umi ni sosog  sugisi hi wo  kataru you ni
akinai no fune    kyou mo kogi yuku

Bengawan Solo
Riwayatmu kini                                      
Sedari dulu jadi
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seberapa airmu
Di musim hujan, air
meluap sampai jauh


Mata airrmu dari Solo
Terkurung Gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatnya dulu
Kaum pedagang selalu
Naik itu perahu

Di  sini lirik lagu Bengawan Solo karya dari Gesang ditulis dengan bahasa Jepang oleh Toshi Matsuda. Lirik yang ditulis memiliki arti yang sama bila digubah ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini menguatkan bahwa dari hubungan kekerabatan yang terjalin antara Indonesia dengan Jepang mempengaruhi hingga penulisan lirik lagu sekalipun. Toshi Matsuda menulis lirik lagu Bengawan Solo dalam bahasa Jepang menggambarkan bahwa kekerabatan yang terjalin karena adanya perkawinan budaya Jepang dan Indonesia kala itu.
SIMPULAN
Afinitas diberi makna hubungan kekerabatan yang terwujud karena adanya perkawinan dalam ilmu bahasa diartikan ‘unsur-unsur sama pada dua atau beberapa bahasa karena bahasa itu diturunkan dari suatu bahasa leluhur yang sama’ dan dalam ilmu biologi mengandung makna hubungan antara jenis-jenis atau kelompok-kelompok yang lebih tinggi didasarkan kemiripan dalam seluruh rencana strukturnya dan kesamaan unsurnya. Dalam sastra banding adalah keterkaitan unsur-unsur instrinsik karya sastra. Lirik lagu Bengawan Solo versi Toshi Matsuda dan lagu versi aslinya yang diciptakan oleh Gesang memiliki kesamaan dan hubungan kekerabatan yang didasarkan pada kemiripan struktur lirik lagu tersebut. Lirik lagu Bengawan Solo yang dinyanyikan oleh Toshi Matsuda dari Jepang adalah ciptaan dari sang maestro keroncong dari Indonesia yaitu Gesang. Lirik lagu Bengawan Solo dibuat dalam versi Jepang dan tanpa disadari bahwa lagu bengawan solo adalah lagu ciptaan gesang dari Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Kutha Ratna, Prof. Dr. Nyoman. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Nawawi, Prof. DR. H. Hadari. 2001. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Sudikan, Dr. Setya yuwana. 2001. Metode Penelitian Sastra Lisan. Surabaya : Citra Wacana.

http://bunbun.boo.jp/okera/haho/bengawan_solo.htm diakses tanggal 20 Desember 2012